Tampilkan postingan dengan label PSPD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSPD. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Keputusan terapi dalam dunia kedokteran dan kedokteran gigi harus selalu didasarkan pada pertimbangan ilmiah yang tidak saja menyangkut jenis terapi yang dipilih tetapi juga faktor-faktor yang memungkinkan suatu pendekatan terapi memberikan hasil yang optimal Faktor-faktor tersebut antara lain adalah penyakit, kondisi pasien, efek obat, pertimbangan terhadap manfaat-risiko obat (risk-benefit assessment), hinga aspek ekonomi dari terapi itu sendiri. Pengambilan keputusan terapi (therapeutic decision making process) dengan demikian menjadi bagian penting dari keseluruhan proses yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, mengurangi atau menghilangkan simptom, hingga memperbaiki kualitas hidup penderita.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN EVIDENCE BASED MEDICINE ?evidence based medicine (EBM), suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada paradigma baru untuk mengambil keputusan medis yang didasarkan pada langkah-langkah berikut :
  1. Memformulasikan pertanyaan tentang masalah kedokteran yang dihadapi
  2. Menelusuri bukti-bukti terbaik yang tersedia untuk mengatasi masalah tersebut
  3. Mengkaji bukti, validitas dan keseuaiannya dengan kondisi praktek
  4. Menerapkan hasil kajian
  5. Mengevaluasi penerapannya (kinerjanya)
Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan antara (1) bukti-bukti ilmiah yang berasal dari studi yang terpercaya (best research evidence); dengan (2) keahlian klinis (clinical expertise) dan (3) nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient values).

(1) Best research evidence. Di sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah tersebut harus berasal dari studi-studi yang dilakukan dengan metodologi yang sangat terpercaya (khususnya randomized controlled trial), yang dilakukan secara benar. Studi yang dimaksud juga harus menggunakan variabel-variabel penelitian yang dapat diukur dan dinilai secara obyektif (misalnya tekanan darah, kadar Hb, dan kadar kolesterol), di samping memanfaatkan metode-metode pengukuran yang dapat menghindari risiko "bias" dari penulis atau peneliti.

(2) Clinical expertise. Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu kemampuan klinik (clinical skills) yang memadai. Di sini termasuk kemampuan untuk secara cepat mengidentifikasi kondisi pasien dan memperkirakan diagnosis secara cepat dan tepat, termasuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyertai serta memperkirakan kemungkinan manfaat dan risiko (risk and benefit) dari bentuk intervensi yang akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai dengan pengenalan secara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta harapan-harapan yang tersirat dari pasien.

(3) Patient values. Setiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama apapun tentu mempunyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan penyakitnya. Pasien juga tentu mempunyai harapan-harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yang diterimanya. Hal ini harus dipahami benar oleh seorang klinisi atau praktisi medik, agar setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah juga mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimilik oleh pasien.


MENGAPA HARUS EVIDENCE BASED?

Beberapa alasan utama mengapa EBM diperlukan,Bahwa informasi up-date mengenai diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan sangat dibutuhkan dalam praktek sehari-hari. Sebagai contoh, teknologi diagnostik dan terapetik selalu disempurnakan dari waktu ke waktu, sehingga bisa saja obat atau teknologi kesehatan yang sebelumnya diketahui terbaik di masanya dapat segera digantikan oleh obat atau teknologi kesehatan yang lebih efikasius dan aman.Bahwa informasi-informasi tradisional (misalnya yang terdapat dalam text-book) tentang hal-hal di atas sudah sangat tidak adekuat pada saat ini; beberapa justru sering keliru dan menyesatkan (misalnya informasi dari pabrik obat yang disampaikan oleh duta-duta farmasi/detailer), tidak efektif (misalnya continuing medical education yang bersifat didaktik), atau bisa saja terlalu banyak sehingga justru sering membingungkan (misalnya cukup banyak jenis obat yang di negara asalnya sudah ditarik tetapi masih tetap beredar di Indonesia tanpa diketahui oleh praktisi medik).Dengan bertambahnya pengalaman klinik seseorang maka kemampuan/ketrampilan untuk mendiagnosis dan menetapkan bentuk terapi (clinical judgement) juga meningkat. Namun pada saat yang bersamaan, kemampuan ilmiah (akibat terbatasnya informasi yang dapat diakses) serta kinerja klinik (akibat hanya mengandalkan pengalaman, yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah) menurun secara signifikan.Dengan meningkatnya jumlah pasien, waktu yang diperlukan untuk pelayanan semakin banyak. Akibatnya, waktu yang dimanfaatkan untuk meng-up date ilmu (misalnya membaca journal-journal kedokteran atau menghadiri seminar-seminar ilmiah) sangatlah kurang. Dalam situasi tersebut bisa saja praktisi medik tidak menyadari bahwa prasat medik yang dilakukan sebenarnya sudah tidak lagi direkomendasikan pada saat ini. Jika tetap dilakukan, maka secara tidak sadar yang bersangkutan telah melakukan medical error, atau memberikan jenis terapi yang sudah usang (obsolete) atau bahkan tidak lagi dianjurkan (abandoned).


APA TUJUAN EVIDENCE-BASED MEDICINE?

Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan keputusan klinik yang evidence-based, adalah dengan menyediakan bukti-bukti ilmiah yang relevan dengan masalah klinik yang dihadapi serta diutamakan yang berupa hasil meta-analisis,  review sistematik, dan randomised contrrolled trial (RCT).


MASALAH PENGGUNAAN OBAT

banyaknya jenis dan jumlah obat yang beredar serta bertambahnya berbagai obat baru tidak jarang justru menyebabkan kebingungan dan kesukaran bagi dokter, pengelola obat dan petugas kesehatan dalam memilih obat untuk pelayanan kesehatan. Sebagian besar sediaan obat yang beredar merupakan duplikasi sediaan yang ada, dengan isi dan dosis yang sama tetapi harga berbeda. Sebagian lagi mungkin merupakan obat yang kurang dibutuhkan karena tidak sesuai dengan kondisi penyakit yang ada atau obat tersebut sesuai dengan kondisi yang ada namun risikonya lebih besar daripada manfaatnya.Kurangnya informasi yang tersedia untuk masing-masing sediaan merupakan salah satu kendala. Selain itu, keanekaragaman sediaan yang dipilih memungkinkan terjadinya pemilihan obat yang tidak sesuai dengan drug of choice dalam pedoman pengobatan yang ada.

MENGAPA FORMULARIUM DIBUTUHKAN?

Salah satu tahap penting dalam proses pengobatan adalah seleksi obat.praktisi medik harus menetapkan jenis obat yang benar‑benar diperlukan bagi pasien. Obat yang diresepkan haruslah yang paling efikasius dan aman bagi pasien.Sayangnya  proses pengambilan keputusan untuk memilih obat ini acap kali tidak didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang terkini dan valid. Gencarnya promosi obat oleh duta-duta farmasi menjadi salah satu faktor penentu proses pengambilan keputusan ini, meskipun dalam kenyataannya tidak semua obat yang dipromosikan memiliki bukti manfaat dan keamanan yang dapat diandalkan.

Sebagai illustrasi singkat adalah Bentuk ketidakrasionalan penggunaan antibiotika sebetulnya cukup beragam, mulai dari ketidaktepatan dalam pemilihan jenis antibiotika hingga cara dan lama pemberiannya. Kebiasaan memberikan antibiotika dengan dosis yang tidak tepat (umumnya "under dose"), frekuensi pemberian yang keliru, atau waktu pemberian terlalu singkat atau terlalu lama selain mengurangi "efficacy"nya sebagai pembunuh mikroba juga menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius.

Di pelayanan kesehatan seperti misalnya rumahsakit, masalah ini bisa diatasi dengan adanya formularium. Formularium merupakan kompilasi sediaan obat yang digunakan sebagai acuan untuk penulisan resep oleh dokter di suatu unit pelayanan kesehatan. Bagi praktisi medik, formularium ini membantu dalam proses pemilihan obat yang rasional.

Formularium obat dengan demikian merupakan suatu perangkat pelayanan kesehatan yang mutlak harus dimiliki oleh rumahsakit dan pusat pelayanan kesehatan lainnya, karena formularium memuat daftar obat yang paling diperlukan oleh populasi, serta penetapannya didasarkan pada bukti manfaat dan keamanan yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah.

 Jadi, setiap praktisi medik perlu selalu meng-update keilmuannya agar setiap tindakan medik yang dilakukannya dapat dipertanggungjawabkan secara benar dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang terkini dan valid.

Sumber: Istimewa.
Posted by Unknown On 19.34 No comments READ FULL POST

Selasa, 18 Juni 2013

Akhir tahun ajaran pendidikan di Indonesia ditandai dengan semaraknya para siswa berbagai jenjang pendidikan sibuk mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan selanjutnya. Siswa TK menuju SD, siswa SD menuju SMP, siswa SMP menuju SMA, dan siswa SMA menuju Perkuliahan. Tentu yang paling menarik dari pergantian jenjang ini adalah siswa SMA menuju perkuliahan. Ketika siswa SMA dinyatakan lulus Ujian Nasional, maka gerbang perkuliahan telah terbuka perlahan di depan mata. Siswa SMA sibuk menyiapkan diri untuk mendapatkan kesempatan belajar di kampus dan jurusan terbaik. Tidak dapat dipungkiri bahwa Fakultas Kedokteran menjadi salah satu jurusan favorit bagi calon mahasiswa. Tidak peduli betapa pun mahalnya biaya pendidikan di fakultas ini, tetap tidak menurunkan animo calon mahasiswa untuk memilihnya.

Terlepas dari mahalnya biaya pendidikan di fakultas ini, kerap kali  menimbulkan sebuah pertanyaan kepada calon mahasiswa tersebut, “Mengapa ingin jadi dokter?”. Sebuah pertanyaan sederhana yang membuat mereka tertegun bahwa menjadi dokter bukan sekadar pamer masuk ke fakultas bergengsi atau sekadar membanggakan orang tua. Bukan hanya itu, menjadi dokter adalah panggilan jiwa yang tidak hanya membutuhkan hati yang bersih tetapi juga otak yang cerdas. Menjadi dokter bukan hanay sekadar sanggup membayar “biaya masuk” namun juga harus memiliki “otak encer” dalam bersaing secara sehat dengan ribuan pelajar hebat lainnya. Faktanya, Indonesia hingga saat ini masih membutuhkan tenaga kesehatan khususnya dokter karena total jumlah dokter hanya 110.000 orang dengan rasio 1 : 3.000 jumlah penduduk*. Namun bukan berarti 75 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia harus selalu diserbu peminat hanya karena negeri kita ini masih membutuhkan pasokan dokter. Apalah arti peningkatan kuantitas fakultas kedokteran jika lulusan dokter terus berkurang kualitasnya karena “isi otak” yang kurang dibandingkan “isi dompet”.

Mahasiswa PSPD Unimal sedang menjalani latihan skills laboratorium.
Kesembuhan tidak saja bergantung dari kepintaran seorang dokter tetapi ditunjang oleh etika dan tata krama seorang dokter menghadapi pasien. Dua hal inilah yang sekiranya perlu digarisbawahi oleh calon mahasiswa kedokteran. Sudah siapkah menghabiskan waktu minimal lima tahun untuk selalu belajar, jatah tidur berkurang bahkan mental diuji selalu karena berhadapan dengan pasien gawat? Sudah siapkah mengurangi jatah bermain dan hidup enak? Bahkan perlu dipikirkan jika menjadi dokter karena tulus mengabdikan diri, sudah siapkah bekerja di daerah terisolir/perbatasan dan alih-alih menjadi dokter di perkotaan? Jika anda berpikir hidup menjadi dokter itu bergelimang harta karena pasiennya banyak, maka anda disarankan untuk pindah haluan dari awal. Banyak hal sebenarnya yang harus dipikirkan ulang ketika ingin menjadi dokter. Bukan hanya karena dipaksa orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter. Jangan sampai sudah masuk namun keluar lagi lantaran otak dan mental tidak mampu. Hal ini terbukti ketika melihat teman seperjuangan yang akhirnya memutuskan keluar dari fakultas kedokteran di tahun kedua hanya karena dua alasan tersebut.

 Jika berbagai pertanyaan tadi sudah direnungkan, maka dengan bangga kami ucapkan "Selamat Datang Mahasiswa Terbaik Bangsa" di fakultas kedokteran. Ada beberapa tips sukses masuk dan bertahan di fakultas kedokteran, yaitu.

  1. Belajar sangat rajin dan berdo'a serta selalu mohon restu kedua orang tua. Melewati batas minimal nilai masuk (passing grade) fakultas kedokteran suatu universitas bukan hal mudah apalagi harus bersaing dengan siswa hebat lainnya. Hal ini membutuhkan semangat perjuangan belajar yang luar biasa. Buktikan adik-adik, bahwa takdir kalian berada di fakultas kedokteran.
  2. Lakukan uji coba hasil belajar kamu sebanyak mungkin dengan sering mengikuti try out dan membahas soal-soal ujian terdahulu dengan beragam pilihan fakultas kedokteran dari beragam universitas.
  3. Carilah info sebanyak mungkin tentang fakultas kedokteran yang ingin dimasuki termasuk rangkaian ujian menuju kesana. Jika lolos melalui SMPTN maka lebih baik. Jangan mudah menyerah dan percaya begitu saja “kata orang” terkait pembiayaan masuk di suatu fakultas kedokteran. Semua hal terkait biaya masuk dan SPP dapat ditanyakan melalui nomer telepon fakultas yang bersangkutan.
  4. Tegarkan mental ketika mendapatkan pengumuman tidak lolos ke fakultas kedokteran suatu universitas negeri, jangan menyerah, cari kembali informasi terkait “Ujian Masuk Mandiri” di setiap universitas karena sebagian besar universitas membuka jalur masuk mandiri. Jangan mudah percaya ketika ada kabar “biaya masuk sangat mahal” sebelum kamu klarifikasi kebenarannya. Bahkan kalau perlu kunjungi universitas yang menjadi targetmu agar mendapat informasi yang benar.
  5. Jangan senang dulu ketika sudah diterima di fakultas kedokteran karena setelah itu akan ada uji kesehatan, wawancara dan psikotes. Jika kamu memiliki sertifikat keahlian, maka bawa dan lampirkan sertifikat tersebut selama proses ujian kesehatan dan psikotes dilakukan.

Akhirnya…tidak menjadi dokter bukan berarti hidupmu akan hancur dan enggan melanjutkan kuliah. Tetap lanjutkan hidup dan timbalah ilmu lain. Jika kamu memang sangat ingin dan harus menjadi dokter, maka coba lagi ujian masuk tahun berikutnya namun pasang target bahwa kamu tidak boleh membuang waktu lebih dari dua tahun hanya karena harus menjadi dokter. Pikirkan total waktu yang harus dihabiskan untuk belajar menjadi dokter dapat mencapai 10 tahun ditambah masa penantianmu. Masih banyak jurusan yang menjanjikan kehidupan lebih baik dan nyaman dibandingkan menjadi seorang dokter. Satu hal lagi, ingat dan renungkan hal ini "Kamu belum tentu menjadi kaya dengan menjadi dokter! Kamu akan menjadi kaya karena kamu menghargai orang lain dan itu dapat dilakukan di semua fakultas!".
Posted by Unknown On 10.32 No comments READ FULL POST
Assalamu'alaikum wr. wb.

Screen shoot Laman Akreditasi Ban-PT DIKTI
Lhokseumawe - PSPD Unimal telah mendapatkan pengakuan resmi dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Negeri dengan mendapatkan nilai akreditasi "B" (Baik) berdasarkan SK Ban-PT No. 106/SK/BAN-PT/Ak-XV/S/IV/2013. Pengakuan ini disambut baik oleh seluruh sivitas akademika PSPD Unimal, khususnya oleh Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malikussaleh dr. Razi Soangkupon S., MS. Beliau sangat bangga kepada seluruh sivitas akademika PSPD Unimal yang telah berkontribusi maksimal sehingga meraih pencapaian ini.

Nilai akreditasi "B" yang saat ini diraih PSPD Unimal membuktikan PSPD Unimal mampu bersaing dari segi kualitas dan kuantitas dengan Fakultas Kedokteran lain.  Sebagai informasi, *
  • Nilai akreditasi FK Unsyah Banda Aceh adalah "B",  
  • Nilai akreditasi FK USU adalah "A",  
  • Nilai akreditasi FK Unand Sumatera Barat adalah "A", 
  • Nilai akreditasi FK Universitas Riau adalah "C",  
 *Sumber:  http://ban-pt.kemdiknas.go.id (diakses pada Selasa, 18 Juni 2013 jam 15.25 Wib.) (EA)
Posted by Unknown On 01.30 No comments READ FULL POST

Sabtu, 15 Juni 2013

Assalaamu'alaikum

Hari ini Blog MUSHAF ingin mengulas sedikit mengenai serba-serbi kedokteran Universitas Malikussaleh yang mana sepertinya sedang dicari-cari oleh calon mahasiswa yang ingin mendaftar atau telah diterima melalui jalur undangan. Mungkin saya sebagai penulis tidak bisa menuliskan secara detail seperti biaya kuliah atau persyaratan akademis lainnya, tapi jika ada pertanyaan bisa komen di bawah, nanti akan kami coba cari jawabannya :)

Kampus PSPD Unimal
Screen shoot Akreditasi PSPD Unimal


Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malikussaleh atau yang lebih sering disebut PSPD Unimal ini telah berdiri sejak tahun 2008 dengan angkatan pertamanya yang juga pada tahun itu. Hingga saat ini telah tercatat sebanyak lebih dari 60 mahasiswa yang telah lulus dan mendapat gelar sarjana kedokteran (S.Ked) baik itu dari angkatan '08 maupun '09. Kini para sarjana itu tengah menjalani tahap kepanitraan klinik dengan menjadi dokter muda di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia, Aceh Utara, sebagai ko-asisten (Koas). Untuk para koas ini berikutnya akan dibahas lebih lanjut.

Nah, PSPD Unimal telah mendapatkan pengakuan resmi dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Negeri dengan mendapatkan nilai akreditasi "B" (Baik) berdasarkan SK Ban-PT No. 106/SK/BAN-PT/Ak-XV/S/IV/2013

Kampus ini hingga kini telah memiliki lima angkatan mahasiswa dengan profil dan berasal dari kota asal yang berbeda-beda. Berhubung jalur penerimaan saat itu tidak hanya melalui Ujian Mandiri tapi juga melalui SNMPTN, banyak pendaftar yang berasal dari berbagai pulau di luar Aceh. Karena itulah, di Unimal sendiri PSPD merupakan jurusan dengan keberagaman budaya yang paling terasa di antara mahasiswa nya.

Yudisium ke-2 Tahun 2013
Setiap tahunnya mahasiwa yang diterima sekitar 50-60 orang, maka dari itu setiap angkatan (atau kalau di sini lebih sering disebut leting) hanya terdiri dari satu lokal namun nantinya akan dibagi-bagi lagi menjadi enam kelompok untuk kegiatan tutorial, praktikum, dll. Tentang pembagian kelompok ini juga akan dibahas secara lanjut nanti.

Berbicara tentang kegiatan perkuliahan, PSPD Unimal sendiri hingga kini menggunakan sistem Problem Based Learning (PBL) yang merupakan model pembelajaran yang melibatkan mahasiswanya untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga mahasiswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Bingung? Pasti gak bakalan bingung kalau udah ngerasain :)

Jadi sistem PBL ini berbeda dengan sistem pembelajaran lama atau konvesional yang dulu biasa digunakan oleh kampus-kampus kedokteran. Kita tidaklah lagi hanya duduk di ruang kuliah dan memperhatikan dosen berbicara di depan selama berjam-jam setiap harinya lalu menghadapi ujian berdasarkan materi yang telah diajarkan dosen tadi. Sistem ini lebih berfokus pada pemecahan masalah yang tiap minggunya diberikan dalam bentuk skenario dalam kegiatan tutorial.

Nah tutorial ini sendiri dilakukan dua kali setiap minggunya, pada pertemuan pertama membahas seputar masalah dalam skenario dengan pengetahuan peserta yang masih seadanya, dan pertemuan kedua lebih kepada sharing informasi setelah peserta mengumpulkan informasi sebanyaknya dari berbagai referensi yang relevan dan valid. Peserta tutorial sendiri terdiri dari sekitar 9-11 mahasiswa yang telah dibagi menjadi kelompok tetap tiap semesternya. Selain itu juga akan ada tutor yang mengawasi jalannya tutorial dan memberikan feedback atas hasil diskusi pada akhir tutorial.

Dengan adanya tutorial tidak serta merta mahasiswa dilepaskan dengan belajar mandiri namun tetap ada kegiatan Kuliah Pengantar yang mana diisi oleh dosen-dosen yang merupakan dokter spesialis yang ahli di bidangnya masing-masing. Seperti namanya, kuliah ini hanya pengantar saja yang diharapkan dapat memicu mahasiswa untuk mencari lebih lanjut tentang materi yang sedang dipelajari. Dengan begitu penilaian tidak lagi berdasarkan pandangan subjektif dari tiap dosen melainkan melalui kemampuan si mahasiswa yang telah berhasil mengumpulkan informasi sebanyaknya dengan membaca referensi berupa buku-buku maupun jurnal.

Selain itu, sama seperti pada fakultas kedokteran lainnya, di sini juga diadakan kegiatan praktikum bermacam-macam seperti fisiologi, histologi, anatomi, mikrobiologi, biokimia dan lain-lain. Praktikum ini dilakukan di laboratorium nya masing-masing. Tidak hanya itu, untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan praktek medis maka diadakan kegiatan Skills Lab (SL) yang mana contoh materinya adalah bagaimana ketika menghadapi pasien, melakukan anamnesa, melakukan berbagai pemeriksaan untuk keperluan diagnosa, serta tindakan medis lain. Dari kegiatan-kegiatan inilah mahasiswa kedokteran mendapat ilmu serta pengalaman agar siap menjadi dokter yang profesional nantinya.

Staf pengajar Unimal sendiri terdiri dari para profesor dan dokter spesialis, dokter umum, juga ada dosen yang merupakan praktisi ilmu di luar kedokteran seperti ahli statistik. Dosen tetap kebanyakan berasal dari Aceh maupun Medan, sedangkan dosen terbang nya berasal dari banyak tempat salah satunya dari Jakarta. Jadi jangan takut bila di sini tidak akan mendapat pengajaran yang sejajar dengan universitas-universitas yang berlokasi di pusat :)

Untuk bidang kegiatan mahasiswa non-akademik di PSPD Unimal ini terbilang sangat maju lhoo. Tercatat hingga kini telah berdiri berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa yang aktif melakukan berbagai kegiatan menarik di tiap bulannya. Latar belakangnya juga berbeda-beda, ada yang berfokus pada keagamaan seperti MUSHAF kita (Medical Students Silaturrahim Forum), ada juga yang berfokus pada penelitian ilmiah yaitu IKARIWA (Ikatan Riset Mahasiswa), ada juga ISET (Ibnu Sina Emergency Team) tentang kegawat-daruratan di dunia kedokteran, dan lain-lain. Untuk badan tertinggi mahasiswa di sini dikenal HMPD (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter) yang di jurusan lain sering disebut BEM, DPM atau PEMA.

Oh iya, tidak lupa membahas mengenai FK Universitas Andalas sebagai 'ibu asuh' PSPD Unimal selama lima tahun, kini PSPD Unimal telah berhasil mendapat Akreditasi 'B' setelah melewati penilaian yang dilakukan oleh panitia pusat. Ini merupakan prestasi yang luar biasa untuk kampus yang baru saja berdiri selama 5 tahun. Sebentar predikat 'anak asuh' ini akan dilepas dan direncanakan insyaa Allah pada tahun 2013 ini status kampus kami akan berganti menjadi Fakultas.

Jadi, untuk apalagi ragu untuk mendaftar dan merasakan pengalaman jadi mahasiswa kedokteran di sini? Apalagi bagi mereka yang sudah diterima melalui jalur undangan, jangan ragu untuk bertanya-tanya pada kami mengenai kampus ini. Bisa menghubungi melalui FB page kami => Mushaf Universitas Malikussaleh maupun twitter => @MushafFKUnimal nanti akan kami respon secepatnya :)


Suasana Kampus PSPD Unimal

Suasana Kampus PSPD Unimal

Mushala As-Shaaf Kampus PSPD Unimal

Mungkin segini saja yang bisa saya ulas, mohon maaf atas sedikitnya informasi yang ada. Ini hanya info yang saya dapat sebagai mahasiswa yang terdaftar di sini. Bila ada masukan mohon disampaikan :)

Terima kasih telah membaca.

Wassalaamu'alaikum ^^


Posted by Unknown On 07.35 1 comment READ FULL POST
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube

    Total Pageviews